Mediaonline.co.id,JAKARTA–Sejak duduk di jajaran pemerintahan, Luhut Binsar Pandjaitan tak lepas dari hujan kritik masyarakat, terutama di media sosial. Jenderal purnawirawan ini kerap tampil paling depan membackup kebijakan Presiden Joko Widodo dari serangan lawan politiknya meski kadang di luar bidangnya.
Yang teranyar adalah kritik pedas yang dilontarkan Said Didu. Menko Maritim dan Investasi itu dianggap hanya memikirkan uang dan uang dibanding memikirkan nyawa rakyat Indonesia di tengah pandemi corona.
Luhut kemudian menjawab tudingan tersebut dengan tulisan panjang di laman Facebook miliknya. Termasuk kritik tajam dari masyarakat yang selama ini menghujaninya.
Pernyataan tegas Luhut seolah menjawab keraguan masyarakat terhadap komitmennya selama ini memajukan Indonesia.
“Saya menghabiskan lebih dari 30 tahun masa hidup saya sebagai seorang prajurit, tanpa pernah merasa ada keraguan ketika terjun ke daerah operasi. Sebagai seorang prajurit Kopassus atau yang dulu disebut RPKAD pun saya terbiasa menghadapi banyak pertempuran jarak dekat, dengan situasi yang sangat mencekam. Jadi saya tidak akan pernah mengingkari sumpah saya sebagai seorang prajurit,” tulis Luhut.
“Selesai bertugas sebagai tentara dan diberikan amanah untuk mengabdi dengan menjadi pejabat publik, semangat pantang menyerah itu tidak pernah luntur. Saya selalu meyakini bahwa apa yang terbaik untuk masyarakat Indonesia maka harus diwujudkan, dengan berbagai macam risiko dan konsekuensinya. Sapta Marga mengajarkan saya untuk terus membela kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Saya terbiasa untuk tidak mudah memasukkan semua kritik ke dalam hati karena saya senang mendapat masukan juga kritik yang membangun dari siapa saja. Saya selalu mempersilahkan siapapun yang ingin menyampaikan kritik untuk datang dan duduk bersama mencari solusi permasalahan bangsa. Bukan dengan melempar ucapan yang menimbulkan kegaduhan tanpa fokus pada inti permasalahan,” sambung Luhut.
Luhut tak habis pikir mengapa di tengah suasana pandemi seperti saat ini, ujaran kebencian dan fitnah terus dipelihara. Ia juga mengaku heran mengapa kita masih diliputi dengan sentimen sektarian di saat seluruh anak bangsa harusnya bersatu melawan musuh bersama yaitu virus corona, yang mengancam kesehatan serta keselamatan seluruh masyarakat Indonesia. Mengapa kita malah terus-terusan mencari perbedaan, tanpa sedikitpun berpikir persatuan.
Dalam menghadapi pandemi corona yang melanda di hampir seluruh wilayah di Indonesia, bagi Luhut hal ini adalah misi yang harus dituntaskan dengan baik. Sama seperti saat dirinya bertempur menjalankan misi dari negara.
“Namun saya sungguh menyayangkan tindakan dan ucapan beberapa pihak yang tega menjadikan situasi seperti ini untuk memperkeruh keadaan dengan melakukan serangan-serangan yang tak berdasar dan malah mengarah ke personal atau pribadi orang lain. Bukan lagi kritik yang berorientasi pada pemecahan masalah dan mencari solusi bagi keselamatan negeri tercinta kita,” paparnya.
Pada tulisan itu Luhut juga menegaskan tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk membungkam setiap kritik yang datang. Karena menurutnya kritik adalah motivasi terbesar sebagai pejabat negara dalam merumuskan kebijakan yang bermanfaat.
“Tapi saya juga ingin bangsa ini menjadi bangsa yang terdidik, yang terbiasa untuk saling kritik dan mendebat dengan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dengan tuduhan tak berdasar yang menyerang pribadi orang lain,” pungkasnya.
“Jika kita berani mengucapkan dan melakukan suatu hal, mengapa kita tidak punya keberanian yang sama untuk mempertanggung jawabkannya?” tegasnya. (endra/fajar)


