Pramono Larang Jokowi ke Kediri, Begini Respons Demokrat

Mediaonline.co.id,JAKARTA– Pernyataan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang melarang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Kediri menuai banyak sorotan dari kalangan politikus. Pasalnya, alasan mantan sekjen PDIP itu dianggap berbau mitos atau takhayul.

Bacaan Lainnya

Diketahui, Pramono sempat menyambangi Kediri untuk meresmikan rusun Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo. Saat memberikan pidato sambutan Pramono sempat mengatakan, dirinya melarang Jokowi datang ke Kediri.

“Ngapunten (mohon maaf) Kiai. Saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden berkunjung di Kediri,” ucap Pramono. Kiai dan santri yang hadir tertawa lebar mendengarnya.

Kenapa larang Jokowi datang ke Kediri? “Saya masih ingat, karena percaya atau tidak percaya, Gus Dur setelah berkunjung ke Lirboyo, tidak begitu lama, gonjang-ganjing di Jakarta,” ujar politisi PDI Perjuangan ini, memberikan alasan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Divisi Bidang Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengeluhkan cara berpikir Pramono Anung yang terkesan masih percaya mitos.

‎”Kalau kepercayaan menjadi alasan utama, tak hadirnya Presiden Jokowi ke Kediri ini sungguh menyedihkan, karena orang pasti berpikiran ternyata seorang Pramono Anung dan Jokowi percaya takhyul seperti itu,” ujar Ferdinand kepada JawaPos.com, Senin (17/2).

Ferdinand ingat benar, di 2015 silam Presiden Jokowi meminta semua pihak jangan percaya terhadap tahayul. Pernyataan itu diutarakan saat presiden menerima direktur program televisi di Istana Negara 2015 silam.

Lebih lanjut Ferdinand mengatakan, ketakutan Presiden Jokowi lengser dari jabatannya itu akibat situsasi yang tidak aman. Karena adanya ganguan politik dan keamanan.

“Sehingga kesalahan-kesalahan kecil termasuk takhyul bisa membuatnya jatuh. Ini yang saya baca dari ketakutan mengunjungi Kediri,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ferdinnad berujar, saat ketua umumnya menjabat sebagai Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dua kali berkunjung ke Kediri. Akhirnya tidak terjadi hal-hal yang ditakutkan seperti lengser dari jabatannya sebagai kepala negara.

“Era SBY tidak ada masalah. Normal saja. Entahlah yang sekarang, mungkin takut atau apa,” pungkasnya.

Diketahui, Pramono sebenarnya tidak ujug-ujug bicara begitu. Dia menanggapi sambutan Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Dalam sambutannya, Kiai Kafabihi Mahrus menjelaskan, Kediri memang daerah wingit (angker) untuk presiden.

Meskipun begitu, kata dia, ada trik supaya presiden yang berkunjung ke Kediri aman-aman saja, yaitu ziarah dan berdoa di Makam Syekh Al Wasil Syamsudin dan Mbah Wasil Setono Gedong.

“Jadi saat berkunjung ke Kediri, berziarah dan berdoa di Makam Syekh Al Wasil Syamsudin, Mbah Wasil Setono Gedong, Kota Kediri. Kenapa demikian, karena Mbah Wasil merupakan penyebar agama Islam jauh sebelum para wali,” ujar Kiai Kafabihi Mahrus.

Berdasarkan berbagai sumber, mitos angkernya Kediri ini memang dipercaya masyarakat Kediri dan Jawa pada umumnya. Mitos ini disebut ada kaitannya dengan keberadaan petilasan makam Prabu Jayabaya, yang terletak di Desa Pamenang, Kecamatan Pagu. Kompleks yang menjadi petilasan atau jejak Raja Kadiri ini dikeramatkan. Banyak pengunjung setiap harinya.

Selain itu, mitos ini juga ada kaitannya dengan Kali Brantas, sungai yang membelah sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kediri. Barang siapa pemimpin yang berani nyeberang sungai ini, katanya tak lama kemudian, pemimpin itu lengser.

Memang, ada sejumlah Presiden Indonesia, setelah berkunjung ke Kediri, lalu lengser. Mereka adalah Presiden Soekarno, B.J Habibie dan Presiden Gus Dur. Sedangkan Presiden Soeharto, 32 tahun memimpin Indonesia, tak sekalipun menginjakkan kaki di Kediri.

Source

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *