Mediaonline.co.id, JAKARTA—Sawah tadah hujan selama ini dikenal
sebagai lahan sawah yang hanya bisa panen satu kali dalam setahun. Tapi dengan
teknologi dan inovasi, sawah tadah hujan kini bisa panen tiga kali setahun.
“Sawah tadah hujan biasanya mengandalkan curah hujan dan
hanya bisa menghasilkan di musim hujan. Tapi pengkajian kami membuktikan
penerapan inovasi bisa meningkatkan produktivitasnya secara signifikan,” kata Kepala
Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjry
Djufri dalam keterangan pers, Rabu, 25 Maret.
Upaya Kementan untuk mendorong peningkatan produktivitas
padi di sawah tadah hujan dilakukan untuk memastikan stok beras nasional
berlimpah. Bahkan pemerintah memiliki target untuk meningkatkan ekspor beras.
Pekan lalu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo
memprediksi pada masa panen raya bulan Maret – April nanti, akan ada tambahan
stok beras hingga 8 juta ton. Produksi padi tidak lagi hanya mengandalkan lahan
sawah beririgasi, tapi juga pemanfaatan lahan suboptimal.
“Langkah-langkah inovatif perlu dilakukan untuk memastikan
produksi beras kita meningkat secara signifikan, antara lain dengan
memanfaatkan lahan-lahan yang belum optimal dan menambah kapasitas
produksinya,” jelas Fadjry.
Untuk menambah kapasitas produksi sawah tadah hujan, Fadjry
menuturkan Kementan telah meningkatkan pemberian bantuan pompa air. Berdasarkan
pengkajian yang dilakukan Balitbangtan, pompa air merupakan menjadi titik
ungkit sawah tadah hujan untuk bisa memiliki indeks pertanaman (IP) 300.
“Berdasarkan pengkajian kami, pemanfaatan air tanah dengan
menggunakan pompa penting untuk dipraktikkan. Mereka menyiram sawah tadah hujan
terutama pada musim tanam ketiga atau musim kemarau,” jelasnya.
Mekanisme pemanfaatan pompa air, disebut Fadjry, harus
menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Air tanah di lahan sawah yang dangkal dengan tingkat kedalaman sekitar
enam hingga sepuluh meter, cukup menggunakan pompa kapasitas kecil pun mampu
mengeluarkan air yang cukup untuk sawah.
“Sedangkan untuk daerah lain yang lebih jauh dari sungai dan
air tanah lebih dalam posisinya, maka diperlukan pompa dengan kapasitas lebih
besar agar dapat mengeluarkan air dengan debit yang sama,” terang Fadjry.
Selain pemanfaatan pompa air, optimalisasi sawah tadah hujan
juga dilakukan dengan memerhatikan
kondisi tanah. Pada lahan yang bertekstur liat, produktifitas padi dapat
mencapai 8 ton per hektare sedangkan pada lahan yang bertekstur pasir
produktivitasnya 5 ton per hektare.
“Untuk itu, kami melakukan upaya untuk meningkatkan
produktivitas padi pada lahan sawah yang bertekstur pasir di antaranya dengan
penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan
kemampuan tanah dalam memegang air,” pungkas Fadjry. (rls)


